Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina

Hadist No.1230

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan dari Nabi, sabdanya: “Janganlah seseorang diantara kamu mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali kalau seseorang itu memang biasa berpuasa, maka silakan puasa pada hari itu”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Penjelasan

Hadist ini melarang seseorang dengan sengaja mendahului puasa sehari atau dua hari sebelum masuk Ramadhan, dengan harapan memperoleh pahala yang lebih banyak. Tetapi, kalau seseorang itu sudah biasa puasa, misalnya puasa Daud atau Senin-Kamis, kemudian tepat kurang sehari Ramadhan itu adalah hari dia berpuasa, maka puasa ketika itu tidak apa-apa.

Pelajaran Dari Hadist

Ibadah itu adalah tauqifi, artinya suatu ketentuan yang tidak bisa ditambah atau dikurangi, betapapun niatnya baik.

Hadist No.1232

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, katanya: Rasulullah bersabda: “Apabila bulan Sya’ban itu tinggal separo, maka janganlah kamu berpuasa”.(HR.Tirmidzi,iapun berkata:Hadis ini Hasan Shahih).

Penjelasan

Larangan puasa nishfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) ada keterkaitannya puasa khusus karena hendak mencari pahala sebanyak-banyaknya. Tetapi kalau seseorang itu sudah terbiasa dengan puasa Daud atau Senin-Kamis seperti diterangkan terdahulu, maka hal itu tidak mengapa. Adapun tujuan larangan ini, agar seseorang dapat mengerjakan puasa Ramadhan dengan baik dan sempurna.

KEUTAMAAN PUASA MUHARRAM, SYA’BAN

DAN BULAN-BULAN HARAM

Hadist No.1253a.

Aisyah r.a. meriwayatkan, katanya:Belum pernah Rasulullah berpuasa yang begitu banyak, selain dibulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau pernah puasa Sya’ban itu sebulan penuh.(HR. BUKHARI dan Muslim).

Hadist No.1253b.

Dalam sebuah riwayat dikatakan: Beliau pernah puasa sya’ban itu hampir sebulan penuh, tinggal beberapa hari saja.(HR.BUKHARI dan MUSLIM).

Penjelasan

Dua riwayat diatas, kalau masing-masing berdiri sendiri, maka berarti Rasulullah pernah puasa sya’ban sebulan penuh, dan pernah juga tidak sampai sebulan penuh. Tetapi, kalau dua riwayat itu berarti satu, dengan arti yang kedua menerangkan yang pertama, maka puasa sya’ban Rasulullah itu tidak sampai sebulan. Sehingga dengan demikian, tidak ada puasa sebulan penuh, kecuali bulan Ramadhan.

Ibnu Hajar Al ‘Ashqalani yang biasa disebut Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 4:213 membawakan beberapa pendapat para ulama’ sekitar masalah tersebut. Namun, kelihatannya beliau lebih condong pada pendapat yang kedua, dengan alasan Hadist ‘Aisyah r.a. juga yang mengatakan:

“Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh, selain Ramadhan, dan tidak pula aku melihat beliau lebih banyak berpuasa, selain Sya’ban. (HR.Bukhari).

Dan katanya juga:

“Dan sama sekali beliau tidak pernah berpuasa sebulan penuh, sejak kedatangannya ke Madinah, selain Ramadhan”. (HR. MUSLIM dan Nasai).

Dengan demikian kata “Kullahu” (semuanya) dalam Hadis 1253a di atas berarti “kabanyakannya”. Dalam ilmu Mantiq, Kullun yang bermakna demikian itu disebut “Kulliyun”(kebanyakan,pada umumnya), bukan “kulliyah” yang berarti semuanya. Wallahu a’lam.

Dinukil dari kitab “Syarah Riyadhush Shalihin” Jilid 4, alih bahasa H.MU’AMMAL HAMIDY, Penerbit PT.BINA ILMU.

Alhamdulillah, alhamdulillahilladhii arsala saiyidinaa muhammadan basiiron wa nadhiron wa ja’ala ummatahu ummatan wa sathon. Ashadu alla ilaha illallahu wahdahu la sariikalahu, waashaduanna muhammadana ’abduhu wa rosuluhu, allahumma solli’ala muhammadin wa ’alaa aalihi wa sahbihi wa sallim tasliiman kasiiran. Amma ba’du.

Kaum muslimin muslimat yang dirahmati Allahh.

Didalam QS. Al-Maidah :54

artinya :

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maaidah: 54)

Hadirin kaum muslimain/mat jama’ah tarawih yang dirahmati Allah…

Rasulullah saw yang telah membawa perubahan superbesar dalam sejarah kehidupan manusia memulai masa kenabiannya di usia 40 tahun. Dan hanya dalam 23 tahun masa kenabiannya, beliau mampu membangun dasar peradaban rabbani, yang menjunjung tinggi aspek superioritas hukum Islam, keseimbangan peran dan kewajiban antar komponen masyarakat.

Ketika ada pertanyaan bagaimana bisa dalam waktu sesingkat itu dapat terbangun sebuah sistem yang mengalami masa kejayaan selama berabad-abad, maka jawaban yang paling tepat adalah karena Rasulullah menggunakan sistem ilahiyah dalam membangun peradabannya. Sistem yang mengacu kepada kitabullah. Sistem ini integral dan komprehensif serta mampu memecahkan seluruh persoalan hidup manusia.

Menurut Dr Ali Abdul Halim Mahmud setidaknya ada 2 pilar pokok yang harus dibangun ketika kita ingin membangun (kembali) sebuah peradaban rabbani. Pertama adalah pilar tarbawi (pembinaan dan pendidikan), berupa pola belajar-mengajar, dengan ragam perangkatnya dengan tujuan untuk menyempurnakan potensi pribadi. Kemudian yang kedua, yaitu pilar tanzhimi (institusional) berupa pembangunan institusi internal masyarakat yang mengatur kode etik dalam kehidupan bermasyarakat, dan institusi eksternal yang mengatur kekuasaan dan hubungan antarbangsa.

Perubahan peradaban ini bisa dimulai. Caranya dengan membangun kepribadian individu Muslim dengan Islam pada seluruh aspek kehidupan. Kemudian pembentukan keluarga-keluarga shalihah dengan seluruh nilai dan moralitasnya. Akhirnya akan terbentuk sistem masyarakat dengan seluruh interaksi sosial dan pengaturannya yang dinaungi dalam wadah institusi yang menjunjung tinggi nilai-nilai ilahiyah.

Muaranya adalah perubahan peradaban. Perubahan yang berakar pada tegaknya sistem nilai yang mengacu pada nilai-nilai transendental dan ilahiyah. Peradaban yang di dalamnya terbentuk struktur kemasyarakatan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran ilahi.

Hadirin kaum muslimain/mat jama’ah tarawih yang dirahmati Allah…

Marilah kita semua saling membenahi diri kita masing-masing menuju perubahan peradaban yang berakar nilai-nilai ilahiyah, yang bisa kita kembangkan atau dapat kita bina  mulai dari keluarga pada khusunya, dan masyarakat pada umumnya, yang nantinya akan tercipta keluarga yang shalihah dengan seluruh nilai dan moralitasnya dan kemudian akan terbentuk system masyarakat yang bernaungkan wadah institusi yang menjunjung tinggi nilai-nilai ilahiyah.

Mungkin cukup sekian yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua. Amien3x ya rabbal’alamin.

Wallahul Al muwaffiq Illa Aqwam At Thariq

Wassalamu’alaikum Wr.wb.

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!